Kalimalang dan Kisah Pemudik Berlomba dengan Waktu



Jakarta, Indonesia

Hujan membuyarkan lalu lintas di Jalan Raya Kalimalang, Sabtu (30/4) sore. Pengendara motor berebut menepi mencari tempat berteduh.

Warung-warung, pom bensin, hingga emperan toko mendadak ramai. Jalanan jadi sepi.

Ada yang bergegas memakai jas hujan, ada juga yang hanya diam menunggu. Gelap langit menandakan hujan awet.

Di deretan motor yang parkir di depan sebuah toko, tampak satu motor yang sedikit berbeda. Sebuah amplop plastik berisi kertas HVS diikat di bagian pelat.

HVS dalam amplop itu berisi kalimat “Yang berat itu bukan rindu, tapi mudik gak bawa mantu“. Seorang pria berdiri tak jauh dari motor bebek itu. Sibuk memakai jas hujan.

“Teman yang bikin itu (tulisan). Iseng dia,” kata pria bernama Panut itu.

Panut berangkat dari Tangerang sejak pukul 14.30 WIB. Ia hendak pulang ke kampung halamannya di Brebes, Jawa Tengah. Hujan yang mengguyur ibu kota terpaksa menghentikan perjalanannya.

Namun, ia tidak menunggu sampai hujan reda. Musababnya, Panut berlomba dengan waktu. Ia hanya mendapat jatah libur tiga hari dari tempatnya bekerja.

Dengan asumsi jarak tempuh delapan jam, ia akan tiba di kampung halamannya pada Minggu (1/5) dini hari. Jika lama menunggu, waktunya di kampung halaman akan semakin singkat.

“Liburnya bentar, tiga hari doang. Jadi cuman salat doang, terus balik lagi (ke Tangerang), karena masuk tanggal 4,” ujarnya.

Karena waktu libur yang singkat itu juga, ia memilih mudik menggunakan motor. Namun, ini bukan pengalaman pertamanya pulang ke Brebes menggunakan motor.

Saat bekerja di Cikarang, beberapa waktu silam, ia mengaku kerap pulang naik motor, sehingga telah hafal medan yang dilalui.

“Kalau dari Tangerang baru sekarang. Biasanya dari Cikarang,” katanya.

Meski tak membawa boncengan–seperti tulisan di motornya– Panut mengaku tidak akan berjalan sendirian ke Brebes.

“Ada rombongan tapi nunggunya di Cikarang,” kata Panut sebelum bergegas menerobos hujan.

Berbeda dengan Panut yang diburu waktu, Sudrajat terlihat santai. Bersama seorang anak dan istrinya, ia berencana pulang ke kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah. Karena hujan, ia tak mau buru-buru tancap gas.

“Karena mau nyantai, kan bareng keluarga. Capek istirahat, pasti sampai,” kata Sudrajat.

Ia juga berangkat dari Tangerang. Dua tahun tak mudik karena larangan pemerintah, ia mengaku mau menghabiskan waktu cukup lama di kampung halamannya pada tahun ini.

Lantaran merupakan seorang pedagang, ia tak terikat dengan aturan libur kantor.

“Berangkat sekarang karena baru sempat. (Pulang) belum tahu, mungkin 10 (hari) sampai dua minggu di sana,” katanya.

Jalan Raya Kalimalang diketahui merupakan salah satu lokasi yang sering dilewati pengendara motor yang hendak melakukan kegiatan mudik.

Jalur lurus di sepanjang jalan Kalimalang ini merupakan perbatasan antara wilayah Jakarta menuju Bekasi. Jika perjalanan diteruskan, pemotor dapat menjumpai jalur Pantura lewat jalan ini.

Menurut Perwira Pengendali Pos Pam Sumber Artha, Ipda Suhanda, Jalur Kalimalang biasanya ramai usai waktu Salat Tarawih.

Di jalur itu, ia juga menyebut puncak arus mudik terjadi pada Kamis (28/4) lalu.

“Puncak itu Kamis malam Jumat. Banyak didominasi oleh kendaraan roda dua. Mobil, mereka pasti menggunakan akses tol layang,” kata Suhanda kepada Indonesia.com.

(yoa/fra)

[Gambas:Video ]




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *