Omicron Terdeteksi di 57 Negara, WHO Sebut Rawat Inap di RS Akan Naik



Jakarta, Indonesia —

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Covid-19 varian Omicron sudah terdeteksi di 57 negara dunia. WHO juga memprediksi pasien rawat inap di rumah sakit kemungkinan akan membeludak seiring meluasnya varian itu.

Menurut data New York Times, varian Omicron terdeteksi di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Islandia, Norwegia, Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Yunani, Prancis, Irlandia, Swedia, Rumania, Chile, Argentina, Brasil, Portugal, Kroasia, Ceko, Austria, Belanda, Finlandia, Latvia dan Swiss.

Kemudian di Arab Saudi, Israel, Kuwait, Uni Emirat Arab, India, Maldive, Sri Lanka, Nepal, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Thailand dan Australia.

Adapun di Afrika, Omicron terdeteksi di Namibia, Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Zambia, Mozambik, Uganda, Nigeria, Ghana, Sinegal, Tunisia, serta Reunion.

Sementara itu, hingga Rabu (8/12) pukul 09.26 pagi, Outbreak info melaporkan jumlah kasus Omicron di dunia mencapai 639 kasus dan belum ada laporan kematian.

WHO memprediksi, seiring penyebaran varian tersebut, jumlah pasien yang membutuhkan rawat inap kemungkinan akan meningkat.

“Diprediksi rawat inap akan meningkat jika lebih banyak orang terinfeksi dan akan ada jeda antara insiden kenaikan kasus dan kenaikan kematian,” demikian menurut laporan WHO seperti dikutip Reuters.

Varian Omicron pertama terdeteksi di Botswana, Afrika, pada pertengahan November lalu. Tak lama kemudian, varian itu menyebar di beberapa negara benua itu hingga lintas negara.

Selama sepekan terakhir, kasus harian Covid-19 di Afrika Selatan melonjak drastis, hingga lebih dari 62 ribu kasus.

Kenaikan itu terjadi di Eswatini, Zimbabwe, Mozambik, Namibia dan Lesotho.

Menurut analisis awal WHO, mutasi yang ada dalam varian Omicron bisa mengurangi aktivitas penetralan antibodi yang berimbas menurunya kekebalan alami.

Meski demikian, WHO masih perlu penilaian lebih lanjut soal tingkat keparahan penyakit akibat varian Omicron dan mutasi yang berpotensi mengurangi kekebalan vaksin.

“Perlu lebih banyak data untuk menilai apakah mutasi di varian Omicron bisa mengurangi perlindungan vaksin, dan dana efektivitas vaksin, termasuk penggunaan dosis vaksinasi,” papar WHO.

Sebelumnya, Kepala peneliti laboratorium Institut Penelitian Kesehatan Afrika di Afrika Selatan mengatakan dua dosis vaksin Pfizer tak cukup memberikan perlindungan terhadap varian Omicron.

Begitu cepatnya varian Omicron menyebar, pada 26 November lalu, lembaga kesehatan PBB itu menyatakan varian tersebut sebagai varian of concern atau varian yang dikhawatirkan.

(isa/bac)

[Gambas:Video ]







Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *